Minggu, 02 Juni 2024

Nyamuk pembawa Virus ZIKA


Virus Zika adalah virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes, yang juga menyebarkan demam berdarah, chikungunya, dan demam kuning. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada monyet rhesus di Uganda pada tahun 1947 dan kemudian ditemukan pada manusia pada tahun 1952. Selain melalui gigitan nyamuk, virus Zika juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual.

Berikut Ciri-ciri Infeksi Virus Zika :

  • Gejala Ringan: Infeksi Zika biasanya menyebabkan gejala ringan, termasuk demam, ruam, nyeri sendi, dan konjungtivitis (mata merah). Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi dan berlangsung selama 2-7 hari.
  • Asimtomatik: Banyak orang yang terinfeksi virus Zika tidak menunjukkan gejala apa pun.
  • Pada wanita hamil, Infeksi Zika selama kehamilan dapat menyebabkan cacat lahir serius yang disebut mikrosefali (kepala bayi yang kecil dan tidak berkembang dengan baik) serta komplikasi lainnya pada bayi.
  • Dalam beberapa kasus, Zika dapat menyebabkan komplikasi neurologis seperti sindrom Guillain-Barré, yang dapat menyebabkan kelumpuhan sementara.

    Cara mencegah dan mengendalikannya adalah Menghindari Gigitan Nyamuk bisa dengan cara menggunakan pakaian pelindung, kelambu, dan repellant serangga. Selain itu yang dapat kita lakukan adalah menghilangkan tempat berkembang biak nyamuk seperti air tergenang di sekitar rumah. Serta menjaga Kebersihan Lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat khusus untuk virus Zika, sehingga pencegahan gigitan nyamuk dan pengendalian populasi nyamuk menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran virus ini.
Sejarah penemuan Virus Zika pertama kali ditemukan pada tahun 1947 di hutan Zika, Uganda. Penemuan ini dilakukan oleh para peneliti yang sedang memantau demam kuning pada monyet rhesus. Berikut adalah ringkasan asal usul dan penyebaran virus Zika:

Penemuan Awal
1947: Virus Zika diidentifikasi pada monyet rhesus selama penelitian demam kuning di hutan Zika, Uganda.
1952: Virus Zika pertama kali diidentifikasi pada manusia di Uganda dan Republik Tanzania.

Penyebaran Awal
1950-an hingga 1980-an: Kasus-kasus sporadis dan sedikit wabah terjadi di beberapa negara Afrika dan Asia Tenggara. Virus ini dianggap sebagai patogen minor karena hanya menyebabkan gejala ringan dan tidak menyebar luas.

Penyebaran secara Global
2007: Wabah besar pertama virus Zika terjadi di Pulau Yap, Mikronesia, di Samudra Pasifik. Ini adalah pertama kalinya virus Zika menyebar di luar wilayah Afrika dan Asia.
2013-2014: Wabah berikutnya terjadi di Polinesia Prancis, yang kemudian menyebar ke beberapa negara di Pasifik Selatan.
2015: Virus Zika mulai menyebar di Amerika Selatan, khususnya Brasil. Pada tahun ini, hubungan antara infeksi Zika pada ibu hamil dan kelahiran bayi dengan mikrosefali mulai teridentifikasi.
2016: Penyebaran virus Zika mencapai puncaknya, dengan kasus-kasus dilaporkan di lebih dari 60 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Pergerakan manusia yang intensif dan globalisasi telah membantu penyebaran virus ke berbagai belahan dunia. Selain melalui gigitan nyamuk, virus Zika juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan dari ibu hamil ke janin. Hingga kini, upaya pencegahan dan pengendalian terus dilakukan untuk membatasi penyebaran virus Zika, termasuk penelitian untuk pengembangan vaksin dan pengobatan yang efektif.
Kasus virus Zika di Indonesia sejauh ini sangat terbatas. Satu kasus yang pernah dilaporkan terjadi di Jambi pada tahun 2014, di mana seorang pria terinfeksi virus ini. Penemuan ini dilakukan oleh Lembaga Eijkman. Hingga kini, Indonesia belum mengalami penyebaran virus Zika yang signifikan seperti yang terjadi di beberapa negara lain​. Walaupun Indonesia bukan daerah endemis Zika, pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan terutama terhadap penumpang yang datang dari negara-negara yang sedang mengalami wabah Zika seperti Singapura. Pengetatan dilakukan melalui penggunaan alat thermal scanner di bandara dan pelabuhan untuk mendeteksi penumpang dengan gejala demam tinggi, meskipun metode ini memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kasus selama masa inkubasi virus​.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar