Rabu, 01 Mei 2024

BAPAK PLURALISME INDONESIA

 GUS DUR

    Dr. K.H. Abdurrahman Wahid Lc, atau biasa kita panggil dengan nama Gus Dur. Beliau merupakan politikus Indonesia dan Presiden Ke-4 dari tahun 1991 hingga 2001. Agar kita lebih mengenal pribadi Gus Dur, berikut biodata beliau :

Tempat, Tanggal lahir      : Jombang, 07 September 1940
Meninggal Pada Tanggal : 30 September 2009
Nama Pasangan                : Sinta Nuriyah
Nama Anak-Anak             :
                                         1.    Yenny Wahid
                                         2.    Inayah Wulandari
                                         3.    Anita Hayatunnufus
                                         4.    Alissa Qotrunnada

    Asal usul nama panggilan Gus Dur berasal dari “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiayi yang memiliki arti Abang atau Mas. Dur diambil dari nama beliau sendiri. Gus Dur adalah putra pertama dari 6 bersaudara, Dimana beliau lahir dalam keluarga yang terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Menurut Wikipedia.com, Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasim Asyari, pendiri Nadhatul Ulama (NU). Sedangkan kakek dari Ibu yakni, K.H. Bisri Syansuri adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada Perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan jadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

    Pada tahun 1944, Gus Dur pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat dimana ayahnya menjabat sebagai Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang pada saat itu menjajah Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir tahun 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Gus Dur belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Gus Dur juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak jadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

    Pada tahun 1954, Gus Dur masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, beliau tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar SMP. Pada tahun 1957, Gus Dur lulus dari SMP, beliau pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Gus Dur mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sembari melanjutkan pendidikannya, Gus Dur juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon lan Majalah Budaya Jaya.

    Pada tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Meskipun beliau adalah murid berbakat, Gus Dur harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab. Pada akhir tahun tahun 1964, beliau berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Di Mesir, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Dimana beliau diminta untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Namun beliau gagal dalam tugasnya sehingga pada tahun 1966, beliau diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Gus Dur pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya. Di sana beliau cepat belajar dan meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia. Beliau  juga menulis majalah asosiasi tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Gus Dur ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. dari Belanda, Gus Dur pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.

    Pada tahun 1999, Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI ke 4 melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Gus Dur merupakan presiden terpilih pertama di Era Demokrasi Indonesia, melalui proses Pemilihan Umum. Beliau menggantikan kepemimpinan BJ Habibie, yang menjabat sebagai Presiden pasca keruntuhan Soeharto dan Rezim Orde Baru. Namun baru menjabat 2 tahun sebagai presiden, Gus Dur harus dilengserkan pada sidang istimewa tanggal 23 Juli 2001Lengsernya Gus Dur dipicu oleh laporan yang disampaikan Panitia Khusus (Pansus) DPR terkait dugaan penggunaan dana Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan Bulog sebesar 4 juta dollar AS. Selain itu, Gus Dur juga diduga menggunakan dana bantuan Sultan Brunei Darussalam sebesar 2 juta dollar AS. Berdasarkan tuduhan tersebut, Gus Dur dianggap melanggar UUD 1945 Pasal 9 tentang Sumpah Jabatan dan Tap MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

    Gus Dur merupakan Presiden dengan selera humor yang tinggiBeliau dicatat sebagai salah satu pemimpin Indonesia paling berpengaruh dengan sejumlah kebijakan politik yang tegas dan berani, meski sedikit mengandung kontroversi.  berikut sebagian kebijakan kontroversi yang dibuat Gus Dur :

  1. Penghapusan Tap MPR yang membahas tentang Partai Komunis Indonesia (PKI)
  2. Melepas jabatan Jusuf Kalla dan Laksamana Sukardi atas tuduhan kasus korupsi, padahal tidak ada bukti yang kuat
  3. Mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisikan tentang pembubaran parlemen. Isi Dekrit Presiden 23 Juli 2001 adalah pembekuan DPR dan MPR, pengembalian kedaulatan ke tangan rakyat, serta pembekuan Golkar. 
  4. Membubarkan Departemen Penerangan agar kebebasan pers dapat terjamin. Seperti yang kita ketahui, pada jaman Presiden Soeharto memanfaatkan Departemen Penerangan sebagai alat untuk mengekang kebebasan pers. dimana pers tidak bebas memberitakan & mensuarakan berita terutama tentang kebijakan pemerintah.
  5. Menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000. dimana kebijakannya adalah menghapus larangan merayakan Imlek. sehingga masyarakat tionghoa bisa merayakan imlek dengan suka cita tanpa harus takut. beliau selalu mengajarkan dan memberi contoh sikap yang menjunjung tinggi keadilan dan menghargai kemajemukan tanpa membedakan agama, suku, ras, bahasa, dan asal-usul. sehingga pantas Gus Dur dinobatkan sebagai Bapak Pluralisme Indonesia.

    Arti Pluralisme sendiri Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Pluralisme terdiri dari dua kata, yaitu plural yang artinya beragam, dan isme yang berarti paham. Sehingga pluralisme dapat diartikan sebagai paham atas keberagaman. Bagi Gus Dur, Pluralisme mengajarkan kesadaran kepada setiap manusia yang beragama dan terutama Muslim, bahwa ada kemajemukan beragama dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Pembelaan Gus Dur terhadap suatu kelompok minoritas, bukanlah hanya karena mereka berbeda, namun juga membela keadilan.
Gus Dur pernah melakukan dialog secara terbuka dalam mengatasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ingin memberontak kepada pemerintahan saat itu. Pada tahun 1999, Gus Dur mengeluarkan Keppres No. 88 mengenai Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh. Lewat cara ini masalah GAM di Aceh pada akhirnya terselesaikan & membuka lembaran baru bagi masyarakat Aceh, sehingga Gus Dur dikenal sebagai presiden yang kaya akan kebudayaan dan humanis. 

2 komentar:

  1. bagus bgt…nmbh pengetahuan dan ilmu.bermanfaat sekaliii

    BalasHapus
  2. Trimakasih....
    Yuk di cek artikel lainnya...

    BalasHapus