Jumat, 31 Maret 2023

FAKTOR-FAKTOR MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

    

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Seperti yang kita ketahui, Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu dalam peningkatan sumber daya manusia  nasional & kemajuan pembangunan suatu negara. Walaupun Pemerintah sudah mencoba berkali-kali memberikan kebijakan untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia, bahkan Pemerintah telah siap memberikan subsidi kepada masyarakat pedalaman dan kurang mampu agar dapat mengurangi adanya ketertinggalan. Berikut detail masalah pendidikan di Indonesia :


1.             Kurangnya Dana Yang Tersedia untuk Pendidikan

Di zaman sekarang, kebutuhan dasar itu bukan hanya sandang, pangan dan papan. Tapi juga pendidikan. Sedangkan dalam menempuh pendidikan bukan hanya biaya sekolah saja yang harus disiapkan melainkan juga termasuk biaya properti dan layanan, seperti buku, alat tulis, seragam dan transportasi. Namun banyak orang yang belum siap dalam mengeluarkan biaya-biaya tersebut. Bahkan masyarakat menengah kebawah mengalami kesulitan ekonomi, mereka lebih memilih bekerja untuk mengatasi biaya hidup yang semakin meningkat dibandingkan harus melanjutkan pendidikan.

Pemerintah telah membuat kebijakan-kebijakan untuk mengurangi masalah pendidikan ini dengan cara mengembangkan rencana pendidikan gratis dan program wajib belajar 12 tahun. Namun kebijakan ini belum mampu mengatasi masalah pendidikan ini. Hal ini disebabkan kurang meratanya alokasi dana program pendidikan dan banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oknum-oknum pemerintahan. Sehingga banyak dana yang tidak tersalurkan tepat sasaran.


2.             Kualitas Pendidik Yang Buruk

Badan Pusat Statistik pada november 2021 mencatat tingkat pendidikan di Indonesia masih didominasi penduduk berpendidikan rendah. hal ini disebabkan kurang meratanya program peningkatan kualitas guru di daerah-daerah. Selain itu, saat ini banyaknya guru-guru yang sudah tua sehingga mereka kurang bisa mengikuti perkembangan kurikulum yang terbaru dan cara mengajarnya terkesan membosankan (kurang update). alasan yang mendasar kenapa guru-guru saat ini sudah berusia tua adalah kurangnya kesejahteraan guru pada saat ini. Sehingga banyak siswa cerdas yang menolak untuk menjadi seorang guru, terutama ketika kita melihat para guru honorer dimana gaji nya sangat minim bahkan bisa dikatakan tidak layak.


3.             Mahalnya Biaya Pendidikan

Biaya pendidikan di Indonesia setiap tahunnya selalu naik. Kondisi ini banyak dikeluhkan oleh sejumlah orang tua murid. Walaupun pemerintah ikut membantu dengan memberikan subsidi dan program beasiswa, namun masih banyak yang belum mendapatkan manfaat dari program pemerintah tersebut. Sehingga banyak anak-anak yang pintar tidak melanjutkan pendidikannya dengan alasan biaya pendidikan yang tinggi. Harapannya anak-anak di Indonesia memiliki akses pendidikan yang sama rata dan bisa memberikan masa depan yang baik.


4.             Kurangnya inovasi dalam Belajar Mengajar

Pembelajaran perlu diinovasi karena pembelajaran itu bersentuhan dengan manusia yang hidup dan kehidupannya terbarui oleh teknologi oleh budaya dan seni yang juga terinovasi. Selain itu inovasi dalam pembelajaran membuat kita tidak bosan. Sehingga mau tidak mau inovasi perlu dilakukan. Inovasi itu memudahkan guru untuk memudahkan anak belajar dan memahami sesuatu. Di Indonesia sendiri, para pengara kurang berinovasi dalam mengajar sehinga kurang mendorong motivasi/minat belajar anak untuk berprestasi. Tanpa adanya inovasi kita tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi saat ini.


5.             Kurangnya Fasilitas Yang Memadai

Adanya fasilitas pendidikan yang memadai membuat siswa dan guru menjadi nyaman dan lancar saat proses pembelajaran berlangsung sehingga mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Namun sayangnya masih banyak sekolah yang kurang memiliki fasilitas yang memadai seperti : atap bocor, bangku rusak, dan kursi yang rusak sehingga membuat banyak siswa yang tidak fokus untuk belajar dan guru untuk memberikan pengajaran. Contoh lainnya, ketika ada seorang siswa yang memiliki bakat menjadi seorang atlit basket namun tidak adanya fasilitas lapangan basket untuk siswa tersebut sehingga siswa tersebut tidak dapat mengembangkan bakatnya dan pihak sekolah pun tidak dapat mengikuti turnamen-turnamen yang ada di daerah lain. Ibaratnya “menyerah sebelum bertanding”.


6.             Perubahan Sudut Pandang Masyarakat Yang Berubah

Saat ini banyak masyarakat yang berpikir belajar bukanlah kewajiban sebagai bekal hidup dan bekal bertahan dari kelaparan. Namun sudut pandang mereka berubah, mereka menganggap pendidikan sebagai kewajiban untuk mengejar pangkat, gengsi, dan gelar. Dimana tujuan yang mereka capai menjadi ambigu. Mereka hanya mencari statistik atau penghargaan saja. Selain itu, para wali murid banyak menuntut para pengajar agar memperlakukan anaknya secara istimewa dan diberikan  nilai yang tinggi. Bahkan para wali murid tidak segan-segan untuk memanjakan anak agar tidak lelah akibat belajar.


7.             Minoritas untuk Grup disabilitas

Kendala yang sering dihadapi penyandang disabilitas saat memilih sekolah umum adalah kurangnya bangunan dan fasilitas untuk anak disabilitas. Rata-rata siswa penyandang disabilitas harus berjuang lebih keras dari rata-rata orang yang normal. Hal ini dikarenakan mereka harus mengejar ketinggalan. Sehingga anak disabiitas kesulitas untuk nyaman di sekolah-sekolah umum. Bahkan seringkali mereka menjadi korban bully di sekolah.

 

 

3 komentar:

  1. 💕💕💕💕💕💕💕💕

    BalasHapus
  2. Masalah utama nya itu adalah koruptor, klo gada koruptor dan merely bener2 majuin pendidikan, aku taking pendidikan di Indo bakal maju kaya Nevada majunlainnya, cuzzz apologize kota2 kecil, pasti semua akan merata. Haha

    BalasHapus
  3. Yupa bner siii.... korupsi itu benar² menyengsarakan rakyat. Hampir semua kalangan melakukan korupsi. Dr atas sampe bawah.

    Makasi ya sarannya

    BalasHapus